Keluarga BUNG KARNO dari WAY HANDAK
- Thursday, October 29, 2009, 20:51
- budaya, komunitas
- 187 views
- 4 comments
IBRAHIM YUSUF adalah orang kecil yang sama dengan banyak pelaku sejarah lainnya yang terpinggirkan, adalah seorang pemuda (pada masa itu) asal Lampung, yang sempat mengalami liku liku kehidupan Istana Negara bersama Bung Karno dan putra putrinya.
Ibrahim Yusuf datang dari sebuah dusun kecil diujung paling selatan Lampung, sebuah dusun bernama Way Handak, datang ke Ibukota untuk mengikuti seleksi yang diadakan oleh Deputi Menteri Departemen Riset untuk menjadi pegawai di lingkungan Istana Negara, untung tak dapat ditolak malang tak dapat diraih, dari sekian banyak pendaftar, disaring menjadi 10 orang dan seleksi akhir hanya 4 orang yang diterima salah satunya Ibrahim yang mengabdikan hidupnya selama kurun waktu lima tahun dari tahun 1960 sampai tahun 1965 di Istana Negara
Ibrahim mengisahkan sekelumit kenangan indah yang masih melekat dalam ingatannya saat di lingkungan Istana: Hari itu ada 10 orang mengikuti seleksi akhir, Ibrahim berhasil membawa segelas air dalam keadaan penuh sampai di depan Bung Karno, saat itu Bung Karno menyapa ramah dan dari percakapannya, beliau sudah mengetahui bahwa di Kalianda terdapat pemandian air belerang dan Kalianda terletak di kaki Gunung Rajabasa. Sementara 6 orang lainnya tidak lulus karena saat membawa segelas air berjalan dengan tubuh gemetar sehingga airnya tumpah karena gelas terguncang guncang dan saat didepan Bung Karno gelasnya sudah kosong……. Ketiga orang lainnya yang diterima berasal dari Padang, Jawa dan Batak.
Semua pegawai di lingkungan istana diperlakukan sebagai keluarga Bung Karno dan tugas utama Ibrahim setiap hari adalah mengantar dan menjemput Guntur, Megawati, Guruh dan Rahmawati, putra putri Bung Karno dari Istana Negara ke sekolah Rakyat di Cikini.
Pada suatu hari, Laksamana Harjo Lukito menghadap Presiden Soekarno di Istana Negara, Ibrahim yang menghantar Laksamana dipanggil kedalam Istana, sampai didalam Istana Bung Karno menepuk punggung Ibrahim dan berkata: “adikmu Guntur akan menikah” dan Ibrahim pun mengangguk meng-iya-kan, hal itu menggambarkan bahwa Ibrahim dianggap sebagi keluarga. Pada saat di lingkungan Istana, dia sempat berfoto dengan Bung Karno dan Ibu Fatmawati, sempat berfoto dengan Guntur, Megawati, Guruh dan Rahmawati dan memiliki kartu pengenal khusus Pegawai Lingkungan Istana Negara berwarna kuning, sayangnya foto foto itu hilang di Jakarta dan Kartu pengenalnya pun entah terbuang kemana saat terjadi peristiwa tahun 1965.
Pada saat Bung Karno, Presiden RI Pertama wafat pada 21 Juni1970 , dengan bantuan dari Laksamana Harjo Lukito, bapak Ibrahim ikut membawa jenazah Bung Karno sampai ke Blitar, hal itu dimungkinkan oleh bantuan bapak Lumintang yang memberi Bapak Ibrahim pakaian dinas Angkatan Udara lengkap dengan pangkatnya. Demikianlah sekelumit kisah bapak Ibrahim Yusuf, saat ini beliau melewati hari harinya kembali di Habitatnya semula di kaki gunung Rajabasa di dusun kecil Way Handak atau lebih terkenal dengan nama Kalianda yang sekarang menjadi ibukota Kabupaten Lampung Selatan. Kiranya catatan kecil ini dapat bermanfaat bagi yang berkenan, sekecil apapun, sepahit apapun, perjalanan seseorang adalah bagian indah dari sebuah kehidupan, sebuah warna dalam suatu lukisan sejarah dari sebuah komunitas di sebuah lorong waktu tanpa batas.
About the Author
4 Comments on “Keluarga BUNG KARNO dari WAY HANDAK”
Berikan Tanggapan
Photo Profile pada Komentar menggunakan gravatar silahkan daftarkan e-mail anda terlebih, gratis kok :D !


3 November, 2009, 16:37 |
Google update PR, Seruit PR-nya naek jadi 4. Mantabs.
5 November, 2009, 8:42 |
@Nanang – Iya sih mas, tapi orangnya pada ke mana yach???
19 November, 2009, 11:32 |
Nah itu dia orangnya pada kemana? Kabar kopdar kapan ya?
8 January, 2010, 9:02 |
Pada sibuk nih kayaknya. Buat simpel aja deh aturan seruit, biar lebih menjadi tempat gathering, dibanding sebuah komunitas eksklusif