bisnis wisata di lampung : persepsi dan kesadaran?

tulisan ini bisa dibilang oleh-oleh saya dari kunjungan ke bandung beberapa hari yang lalu, dan bisa juga dikatakan sebagai ke”gatelan” saya akan kondisi wisata di lampung. dalam tulisan ini mungkin anda tak akan mendapatkan sebuah analisis yang mendalam, ataupun data lengkap tentang kondisi bisnis dan wisata di lampung.

menurut pengamatan saya dalam kunjungan ke bandung, kondisi iklim usaha yang sangat bagus dan dipadu dengan kreatifitas pelaku usaha ternyata mampu menarik pengunjung ke kota bandung. hal terlihat dengan menjamurnya kafe dan tempat wisata kuliner yang menjadi daya tarik wisata kota di Jawa Barat.

Bandung bisa dijadikan contoh real dalam mengelola aspek bisnis dengan konsep wisata, sehingga anggaran belanja pengunjung tidak dinilai dengan keuntungan materi melainkan dari arti sebuah rekreasi dan sebuah kesenangan dalam menikmati lokasi wisata dengan berbagai fasilitasnya.

seperti diungkap seorang kawan dalam blognya yang juga menyoalkan tentang bandung dan ekonomi pariwisata,

Kemampuan bandung untuk mengelola kedua hal tersebut (persepsi yang baik dan kesadaran entitas masyarakat-red) secara proporsional yang menjadikan kota ini berkembang sebagai salah satu pusat pariwisata di Indonesia. Dengan daya tarik struktur kota, daya tarik bisnis yang kompetitif dan brand yang telah dimilikinya, memberikan implikasi pada kondisi ekonomi yang baik. Sementara, kondisi ekonomi yang baik merupakan kontributor utama pertumbuhan masyarakat dalam dimensi luas.

dari sini bisa kita posisikan lampung sebagai daerah tujuan wisata, sebagaimana program pemda lampung yang baru saja di luncurkan yaitu Lampung Visit Year 2009 dengan target pengunjung sebesar 2 juta orang, dalam mencapainya perlu strategi khusus yang minimalnya sudah terbukti dan teruji. tentunya bila kita jadikan Bandung sebagai acuan maka bagaimana mencoba menerapkan potensi persepsi dan kesadaran itu di Lampung.

secara persepsi, diakui bahwa lampung belum memiliki persepsi yang baik akan daerah tujuan wisata, imej terminal rajabasa yang sangar, imej daerah yang masih terbelakang, warganya yang tidak ramah, dan kualitas pelayanan masyarakat yang tidak maksimal misalnya. persepsi daerah tujuan wisatawan lokal pun sepertinya masih belum diharapkan, masih banyak warga lampung yang memilih weekend ke luar lampung seperti Jakarta, Palembang, Bandung dan lokasi wisata lainnya di Pulau Jawa.

membangun persepsi

persepsi baik tentang lampung perlu dibangun dengan kualitas layanan di tempat-tempat publik seperti pintu gerbang Dermaga Kapal Bakauheni, persepsi baik tentang lampung bukan hanya sekedar adanya tugu siger yang mentereng di puncak bukit walaupun secara pandangan mata emang itu bagus, namun bila tidak disertai dengan sambutan pelaku ekonomi dan petugas di lapangan tidak sinkron, seperti contoh ketika turun dari kapal, kadang orang bete menikmati sambutan calo yang kasar dan sepertinya dibiarkan liar oleh para petugas. maka hal itu akan sia-sia, kalo dianalogikan seperti memandang gadis cantik, pas gadis itu ngomong bahasanya kasar dan cempreng he he he …

persepsi baik juga bisa dengan pemeliharaan dan pengadaan sarana pendukung wisata seperti alat transportasi dan fasilititas umum. setelah pengunjung turun dari kapal sudah bete dengan perilaku calo, kini mereka di suguhi bus-bus “AC” yang jauh dari kategori nyaman selayaknya menggunakan bus AC yang normal, mulai dari AC-nya yang kadang idup kadang nggak, berangkat telat karena nunggu penumpang terlalu lama, adanya jok tambahan yang bikin tidak nyaman dan sebagainya. yang dilihat justru pungutan kontribusi dari pemda yang begitu gencar baik di tiket maupun di peron tambahan.

Kesadaran entitas masayarakat

bisnis yang disandarkan pada aspek wisata adalah bisnis pelayanan dan bisnis kenyamanan, dia tidak sekedar bagaimana mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana konsumen puas sepuas-puasnya, sebetah-betahnya sehingga si konsumen tidak lagi melihat nilai ekonomis dari suatu barang melainkan nilai kepuasan yang tiada hingganya.

kesadaran masyarakat sangat penting bagaimana ketika dia bisa membuat pengunjung (baca konsumen) puas dan nyaman dalam menikmati jasa dan pelayanannya.

akhirnya bagaimana pemda sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai eksekutor bisnis dan pariwisata bisa mengelola kedua hal ini, maka saya rasa benar apa yang dikatakan bung Sumandj, promosi besar-besaran visit lampung 2009 berupa seremoni-seremoni, festival dan hingar-bingar lainnya sebenernya tidak terlalu penting, tapi bagaimana membangun persepsi baik dan membangun kesadaran entitas masyarakat. sehingga tujuan wisata lampung berangkat dari kesadaran pengunjung atas persepsi baik tentang lampung yang mampu merayu pilihan kunjungan wisata, dan kesadaran masyarakat dalam mengemas potensi wisata di lampung dan bingkai bisnis dan usaha terbangun dengan baik.

About the Author

admin telah menulis 16 berita untuk seruitdotcom.

Seruit[dot]com merupakan komunitas para blogger Lampung. Mereka tidak hanya yang berdomisi di Lampung saja, tapi juga tinggal di luar Lampung dan memiliki keterikatan erat dengan Lampung.

6 Comments on “bisnis wisata di lampung : persepsi dan kesadaran?”

  • finthuk
    29 March, 2008, 14:26 | Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP#1

    setuju banget, dan semua pihak harus bantu, ayooo mana nih orang lampung,

    *salam dari surabaya*

  • soemandjaja
    29 March, 2008, 16:52 | Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP#2

    hehehe… tulisanku dikutip…
    bah… kayaknya ini salah satu posting the best nya dikau deh…. hahahaha… welcome to the club…..

  • soemandjaja
    29 March, 2008, 16:56 | Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP#3

    ada data yg menarik ttg bandung, ini muncul di saat kampanye pilgub di sana….. silakan di konfirm kalo salah..
    PAD Bandung paling besar berasal dari sektor JASA, dan kalau ditelusuri lagi sebagai besar sektor tersebut adalah JASA yang berhubungan dengan PARIWISATA…
    wah….. hebat kan…. bener yg pernah lu bilang bah…
    di bandung mah masalah sosial rendah karena semua bisa makan…. jualan barang bekas aja bisa makan.. karena yg dibeli itu image “barang bekas DARI BANDUNG’ nya…. hehehe… kalo DARI LAMPUNG mah siapa yg mau beli.. hehehehe…

  • ti, Bandung
    30 December, 2008, 22:30 | Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.20 on Windows Windows XP#4

    semua benar, tapi g da salahnya kalau qt denger juga, tamu-tamu daerah yang pernah sengaja bwat event disini sekaligus bantu Lampung biar lebih me Nasional dg menjadi tuan rumah bwat even yg brskala nas.KATANYA ” bwat event diLampung ijinnya mehong ( mahal), lebih mahal dari 10 kota besar n 10 kota yang setara berkembangnya “, yah ini dia sebagian dari permasalahan qt, bahwa pemahaman untuk menjadikan Lampung qt terkenal tu adalah Antaranya lewat event entertainment yang otomatis isi bagiannya dr pariwisata.walau banyak reason tapi. sebaiknya bwat yg terkait. coba untuk didengarkan biar gak pada kapok.

  • soemandjaja
    31 December, 2008, 7:52 | Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP#5

    hmmmm.. kenapa kok kayaknya gak asing sama komen di atas yah?.. hmmmm.. :berpikir:

  • mbahcyber
    2 August, 2009, 14:50 | Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows Windows XP#6

    Halo semuanya !!!!
    Kenalin ya namaku mbah cyber, nggak ada hubungan darah lho ama mbah surip mungkin sama-sama orang Indonesia aja kali ha….ha…..ha…..

    Buat yang mau tahu segala info dunia cyber(maya) silahkan mampir ke rumah mbah ya? jangan sungkan-sungkan ada kue ama kopinya juga lho ha…….ha……ha…..

    Salam Selalu,

    MBAH CYBER

Berikan Tanggapan

Photo Profile pada Komentar menggunakan gravatar silahkan daftarkan e-mail anda terlebih, gratis kok :D !

krui
SERUIT.COM » Komunitas Blogger Lampung | © 2008 - 2010.
Powered by : Wordpress - Hosting : 1st-webhosting - Di Desain Oleh : BambangOke