Ada Apa di Aceh (bag.1)

Aceh banyak memberi saya cerita. Sejak awal perjalanan hingga akhir, semua penuh cerita unik. Tapi untuk seruit saya mungkin bisa bercerita tentang kultur/ budaya yang hidup sangat kental di sini, saya bahkan dengan mudah dapat belajar sedikit bahasa aceh, ternyata mudah, tinggal merubah kata yang ada huruf “u” menjadi “e”, misalnya “batu” maka berubah menjadi […]

⇥ Read the article in full

Tentang seruit

Seruit[dot]com merupakan komunitas para blogger Lampung. Mereka tidak hanya yang berdomisi di Lampung saja, tapi juga tinggal di luar Lampung dan memiliki keterikatan erat dengan Lampung.

Read More   ⎋

Berkas

Categories

sumbangan

rank blog indonesia

Kontak Admin


Geri Abdul Syukur
Jumlah pengunjung       
38985      

Locations of visitors to this page          

Recent articles

Politisi Perlu Baca Sastra agar Lebih Manusiawi

POSTINGAN di seruit.com lagi seret. Saya lagi ‘macet’. Tapi, saya perlu menyampaikan berita ini di tengah makin dekatnya pelaksanaan Pemilihan Gubernur Lampung, 3 September 2008. Dan barangkali ada kaitannya dengan postingan saya terdahulu (baca: Mendadak [Menjadi] Penyair).

Kutipan selengkapnya dari Kompas, Senin, 30 Juni 2008:

Jakarta, Kompas - Politik sudah semakin beringas. Agar menjadi lebih manusiawi dan berpihak kepada rakyat kecil, politisi harus lebih banyak membaca dan mengapresiasi karya-karya sastra dan seni.

Pandangan itu mengemuka dalam acara sederhana Peresmian Komunitas Trusnan yang digagas anggota Badan Pemeriksa Keuangan, Baharuddin Aritonang, di Jakarta, Sabtu (29/6).

Hadir dalam acara itu Hamsad Rangkuti, sastrawan peraih penghargaan Khatulistiwa Award, mantan wartawan yang juga sastrawan Sori Siregar dan Martin Aleida, serta sejarawan Basyral Hamidi Harahap.

”Sastra itu membuat politik menjadi lebih human. Sastra itu selalu memihak orang-orang yang tersingkirkan,” kata Martin.

Dia mencontohkan karya-karya sastra Pramoedya Ananta Toer yang mengangkat masalah sosial dan orang-orang tersingkirkan.

Aritonang yang pernah menjadi anggota DPR pada 1999-2004 dari Partai Golkar dan sekarang mulai menggeluti dunia sastra juga mengakui hal itu. ”Saya membuat komunitas dengan sastrawan karena merasa mereka itu hidupnya lebih ikhlas dan jujur. Politik sekarang ini sudah terlalu jauh dari seni. Sudah beringas,” tutur penulis buku Orang Batak Naik Haji itu.

Soekarno

Hamsad juga mengingatkan bahwa Soekarno merupakan politisi yang sangat mengapresiasi nilai-nilai seni dan sastra. ”Di istana banyak tersimpan lukisan bermutu tinggi,” ujarnya.

Dia juga mengharapkan para seniman yang sudah masuk ke dunia politik atau duduk di jajaran pemerintahan bisa memberi nuansa seni sehingga politik menjadi lebih humanis. (SUT)

Oblong CakCuk “surabaya” dalam kata yang “misuh”


Ada yang menarik setiap saya mengunjungi sebuah kota, yah oleh – oleh yang khas tentunya menjadi pertanyaan umum setiap pengunjung yang sedang berlibur. Sebenarnya ada banyak pilihan untuk merasakan khasnya sebuah kota, ada wisata kuliner, tempat nongkrong, event khusus, jajanan pasar, tempat unik baik itu dari segi positif maupun negatif dan yang terakhir adalah hal yang unik dan khas yang bisa dijadikan buah tangan saat meninggalkan kota penuh kenangan itu.

 

Mungkin ketika kita berada di sebuah kota, dan saat perut meminta diisi, wisata kuliner menjadi sebuah pilihan terbaik. Di Surabaya ini ada beberapa pilihan wisata kuliner yang disarankan oleh teman sekaligus guide saya. Ada nasi rawon yang memiliki citarasa yang khas dan warna gelap yang penuh misteri rasa, ada rujak cingur yang terasa maknyoss di lidah, ada juga nasi bebek yang sama sekali belum saya cicip, dan tahu campur yang begitu menggoda.

 

Namun tahukah kawan, ketika kita akan pulang pasti memerlukan oleh – oleh yang dibawa pulang dan menjadi kenangan tersendiri. Apakah itu?

 

Sebelumnya saya akan bercerita ketika saya berkunjung kota kembang Bandung, sebuah kota yang menjadi surga para pecinta kuliner dan belanja. Disudut sebuah mall baru dengan nama paris van java ada sebuah distro menarik dan mengangkat citaras lokal, itulah Mahanagari, sebuah merk yang mendesain kaos – kaos unik dengan desain dan kreatifitas kata yang mengangkat ciri khas lokal.

 

Nah, saya menjadi teringat mahanagari tadi ketika saya diajak ke balai pemuda surabaya. Disana saya diperlihatkan aneka pernak pernik khas jawa timur, dari mulai kaos ala madura, stiker dan pernak pernik ala surabaya dan yang tak kalah menarik adalah CakCuk surabaya yang dengan slogan “katakata kota kita”ini memiliki beberapa desain dan model kaos oblong dengan ciri khas lokal. Ada berbagai eksplorasi yang digunakan untuk memperkaya kolekasi kaos oblong keren nan unik.

 

Kaos oblong kreatifitas anak muda CakCuk ini memang kalo dilihat sekilas seperti sebuah rekareka kata yang jorok dan tidak mendidik. Namun, karena hal itu dibuat untuk lucu-lucuan, dan juga diproduksi sebagai kritiks sosial kondisi masyarakat yang realistis, maka hal jorok dan tidak mendidik menjadi hal unik dan khas surabaya bangets.

 

Gimana dengan Bandarlampung?berminat dengan ide yang sama?

Rancange, Api Muneh

Apa yang kami khawatirkan, akhirnya terjadi. Kerja keras untuk menerbitkan Mak Dawah Mak Dibingi (MDMD) karya Udo Z. Karzi menjadi buku, akhirnya terjadi.

Buku berbahasa Lampung yang diterbitkan BE-Press, sektor penerbitan Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL), akhirnya memperoleh Rancage Award 2008. Ini musibah besar, karena hadiah yang diterima ini menjadi pemicu (cambuk) untuk menerbitkan buku-buklu selanjutnya. Sayang, upaya ke arah sana tampaknya akan sulit dilakukan mengingat upaya pertama saja “nyaris” tidak dibantu oleh siapa pun.

Dengan miris, Binhad Nurrohmat, penyair asal Lampung yang berdomisili di Jakarta, mengatakan: “Kasihan Lampung, untuk menerbitkan buku berbahasa Lampung saja harus didahului orang Batak dan orang Jawa”.

Lantas, kemana orang-orang Lampung–mereka yang mendatang mengatakan paling berperan dalam penerbitan Mak Dawah Mak Dibingi?

Kemana media terbesar Lampung Post selama ini? Kenapa tidak ada upaya membantu, malah setelah dapat Rancange baru terpikir untuk mengeruk untuk berupa iklan?

Yang terpenting, setelahpengurus Yayasan SKL berpencar-pencar–karena lebih baik mengangkat budaya sendiri–siapa yang akan melanjutkan Mak Dawah Mak Dibingi edisi ke dua, ke tiga, ke empat dan ke sejuta?

Udo Z. Karzi? Untuk berterima kasih saja tak pernah.

Ratu Tebu Turun Gunung vs Kopdar

Ini artikel saya bikin aneh punya, judulnyapun judul ter aneh. Maaf ini bisa jadi kabar gembira, dan juga bisa bikin penasaran orang sekampung.

“Ada apa kisanak?” tanya kalian

“Nggak ada apa apa sih, cuman kayaknya dah kangen nih pengen ketemuan lagih sesama seruiter!” saya menjawab

Pertanyaan :

1. Siapakah Saya?

2. Siapakah yang mengundang Kopdar?

3. Kopdar dimana?

4. Ngapain ajah?

5. Syarat dan ketentuan berlaku?

Jawab :

1. Saya adalah Blogger Profesional yang mencoba peruntungan di dunia Blog dengan media bernama problogger. Masih nggak tau? tanya google!

2. Tentu Saya dan di sponsori oleh Ratu Tebu sang gadis manis nan menawan hati, yang berniat menjadi ratu blogger lampung. siapakah dia?tanya googel lagih lah atau coba pake wordpress.com pasti ada di BOTD.

3. Lokasi  di Pizza Hut Lotus Plasa (bekas Alfa) Jl Raden Intan Bandar Lampung.

4. Makan-makan, sesi pemotretan, ngobrol-ngobrol, jumpa fans dll.

5. Syarat dan ketentuan tentu saja sangat berlaku, karena tempat terbatas nih

SYARAT DAN KETENTUAN

1. Konfirmasi kesediaan untuk hadir harap langsung sms or telp ke 081927982929 sebelum tanggal 26 Juni 2008 jam 14.00 wib.

2. Diutamakan membawa kamera sendiri

3. Berpakaian

4. Tidak Merokok di saat acara berlangsung (silahkan bawa rokok dan menggunakannya di luar sesi acara.

5. HARAP TEPAT WAKTU, dan tidak menolerir segala bentuk keterlambatan alias bila anda terlambat maka anda tereliminasi dari acara alias … nggak dapet makan-makan

keterangan lebih lanjut :

hubungi Kang Gery at 081927982929 | YM wiji_tukul | http://problogger.web.id

Undangan Syukuran Hadiah Sastera Lampung Rancage 2008

Saya pulang kampung ke Lampung setelah menghadiri sebuah acara di Bandung beberapa waktu lalu. Terasa, Lampung sangat gerah. Bukan cuma karena hujan yang jarang menyirami tanah Sang Bumi Ruwa Jurai, tetapi juga karena suhu politik memang tengah memanas menjelang Pemilihan Gubernur Lampung, 3 September 2008.

: Jangan kata pelitikus, seniman pun — kabarnya — ikut main pelitik.

Lama tak bersentuhan dengan internet dan di tengah tidak pupulernya kegiatan kesenian, saya merasa perlu (atau terpaksa) menyampaikan sebuah undangan kepada segenap seruiter, terutama yang berada seputar Kota Bandar Lampung untuk menghadiri:

Sebuah Acara (kami sebut saja) Syukuran atas Pemberian Hadiah Sastera Lampung Rancage 2008 untuk buku puisi Mak Dawah Mak Dibingi di Aula Harian Umum Lampung Post hari ini (Selasa, 24 Juni 2008) pukul 19.00 WIB.

Sudilah kiranya para seruiter menyempatkan diri menghadiri acara yang tidak terlalu penting ketimbang urusan kekuasaan dan bisnis.

Salam,

Udo Z. Karzi

Add to Technorati Favorites
Seruit at Google Groups

komunitas seruit at google groups Seruit at Google Groups
Visit this group
Free shoutbox

Galeri Foto

kopdar seruit (26-06)   kopdar seruit (26-06)   kopdar seruit (26-06)   kopdar seruit (26-06)   kopdar seruit (26-06)   kopdar seruit (26-06)   kopdar seruit (26-06)   kopdar seruit (26-06)